Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2023

TBM Kinanthi dan SMPN 1 Baureno Hadir di PKD Bojonegoro

Gambar
PKD Bojonegoro Hari Kedua, Seratusan Anak Diajak Mencintai Seni Tradisi https://mediapantura.com/35314/pkd-bojonegoro-hari-kedua-seratusan-anak-diajak-mencintai-seni-tradisi

Galuh

Galuh Emi Sudarwati Hampir 99% guru dan siswa berpandangan negatif pada siswa satu ini. Langganan keluar masuk rung BK menjadi hal biasa.  Ada saja masalah yang dia buat hampir setiap hari. Merokok di sekolah, melompat pagar belakang, ngumpet di WC, mencuri kue di kantin, dan masih banyak lagi yang menjeratnya.

Pekan Kebudayaan Daerah Digelar Akhir November

Gambar
Bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan pelaku kesenian tradisional di Bojonegoro, Kelompok Kerja Kebudayaan Bojonegoro menjadi pencetus Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Bojonegoro 2023. Persiapan tersebut digelar di lantai 2 Gedung Bojonegoro Creative Hub yang ada di bilangan Jalan Pemuda Bojonegoro. “Intinya kita, penggerak seni budaya dan pelaku seni tradisional memang harus berkolaborasi untuk kemajuan Bojonegoro,” jelas Wahyu Subakdiono, selaku Ketua Kelompok Kerja Kebudayaan. Secara garis besar, kegiatan PKD Bojonegoro yang baru pertama kali digelar tersebut bakal fokus pada teater tradisional beserta cabang kesenian di dalamnya. “Di Jawa Timur ikonnya adalah Ludruk, maka keberadaan Sandur harus setara. Itulah kenapa kami mempersiapkan dua ikon teater tradisional tersebut sebagai fokus kegiatannya,” tambahnya. Lebih lanjut, pihaknya akan membawa hasil PKD Bojonegoro 2023 ini ke tingkat nasional di tahun 2024 dalam ajang Pekan Kebudayaan Nasional. “Untuk helat pertama...

Karya Sampah

Gambar
Jadi ingat waktu pertama kali menerbitkan buku bersama siswa. Tepatnya pada tahun 2014. Pada acara bedah buku di pemkab Bojonegoro. Seorang sasterawan besar mengatakan, "di buku ini memang ada karya yang bagus. Tapi yang lainnya sampah." Seperti tersambar petir rasanya. Di hadapan ratusan guru dan dengan mata berkaca-kaca saya menjawab, "saya seorang guru. Tidak berkeinginan mencetak semu siswa menjadi sastrawan. Namun setidaknya, minimal sekali seumur hidup, nama mereka tertulis dalam buku ber ISBN dan tersimpan di Perpusnas."